Pressing Ketat Real Madrid Hancurkan Harapan Juara Barcelona

Analisis

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Pressing Ketat Real Madrid Hancurkan Harapan Juara Barcelona

Real Madrid memastikan diri keluar sebagai juara di ajang Piala Super Spanyol. Kemenangan 2-0 yang diraih Madrid atas Barcelona di laga leg kedua yang berlangsung di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, Kamis (17/8) dini hari WIB, membuat mereka unggul agregat 5-1 atas Blaugrana. Dua gol Madrid dalam laga tersebut dicetak Marco Asensio pada menit ke-3 dan Karim Benzema di menit 39.

Tertinggal 1-3 di leg pertama, membuat Barcelona harus mencuri tiga gol tanpa balas di Bernabeu pada leg kedua itu. Berbagai upaya dilakukan salah satunya dengan merubah formasi mereka. Tidak seperti biasanya, Blaugrana yang kerap memakai formasi 4-3-3 itu mengubah formasi menjadi 3-5-2.

Selain upaya untuk mengejar ketertinggalan, perubahan formasi tersebut sepertinya didasari beberapa pertimbangan yang dilakukan Ernesto Valverde. Pertama, tampaknya Barcelona masih belum bisa mencari pengganti pemain yang sepadan dengan Neymar yang pergi ke Paris saint Germain (PSG). Masih ada Gerard Deulofeu, yang sebenar tampil di lege pertama. Namun sepertinya masih belum cukup memuaskan.

Kemudian, absennya Andres Iniesta juga tampaknya cukup memengaruhi perubahan formasi tersebut. Menghadapi Madrid yang punya lini tengah yang bagus, membuat Valverde sepertinya ingin mencoba mengimbangi atau bahkan mengungguli lini tengah Madrid yang malam itu diisi Luca Modric, Tony Kross, dan Mateo Kovacic.

Lima pemain tengah yang dijadikan Starter oleh Valverde untuk menekan Madrid adalah Jordi Alba sebagai gelandang kiri, Sergi Roberto di kanan, Sergio Busquet, Ivan Rakitic, dan Andre Gomez di tengah. Lima gelandang tersebut mengapit duet penyerang Lionel Messi dan Luiz Suarez. Sementara di sektor pertahanan, Valverde menempatkan Samuel Umtiti, Javier Mascherano, dan Gerard Pique

Pressing Ketat

Meski perubahan skema dilakukan Barcelona dalam laga tersebut, namun Madrid terlihat tidak terlalu terpengaruh. Memiliki keunggulan agregat 3-1 dari pertandingan leg pertama pun tak sedikitpun mengurangi daya dobrak Los Blancos. Buktinya, sejak awal pertandingan mereka langsung melakukan pressing ketat hingga jantung pertahanan Barcelona. Pressing yang dilakukan Madrid sangat menyulitkan Blaugrana untuk membangun serangan dari belakang.

Bagaimana tidak, selama kurang lebih 10 menit laga berjalan Barcelona seolah tidak diberikan nafas untuk bisa keluar dari tekanan. Setiap satu pemain Barcelona memegang bola, di sana pasti sudah menunggu satu atau dua pemain Madrid untuk melakukan gangguan. Kondisi yang sangat menyulitkan bagi mereka, karena bola selalu bisa direbut.

Permainan menekan yang dilakukan Madrid kemudian langsung membuahkan hasil saat pertandingan memasuki menit ketiga. Marco Asensio sukses membawa Madrid unggul 1-0 melalui sepakan jarak jauhnya yang langsung mengoyak jala gawang Barcelona yang dikawal oleh Andre Ter Stegen. Gol tersebut kemudian membuat Madrid sukses menambah keunggulan agregat menjadi 4-1.

Memasuki pertengahan babak pertama, Barcelona lambat laun mulai bisa keluar dari tekanan. Hingga kemudian variasi coba dilakukan Barcelona dengan bermain lebih melebar. Cara tersebut memang berhasil bagi mereka untuk memasuki area kotak penalti Madrid. Tapi, bola silang yang kerap dilepaskan Luiz Suarez atau Lionel Messi selalu bisa dipatahkan.

Sebab, para pemain belakang Madrid sudah bisa membaca arah bola, sehingga sebelum umpan silang diberikan, para pemain Madrid sudah lebih dulu menutup pergerakan pemain Barcelona yang muncul dari lini kedua.

Selain pressing ketat, satu hal lain yang membuat pola serangan Madrid lebih berkembang ketimbang tamunya adalah umpan direct yang sering dilepaskan ke area flank Barcelona. Alba dan Sergi kerap terlambat turun, sementara di belakang hanya ada tiga bek yang kesulitan untuk mengantisipasi serangan Madrid dari sektor sayap. Akhirnya dengan pola tersebut, Madrid sukses menambah keunggulan menjadi 2-0 melalui Benzema setelah menerima umpan silang Marcelo dari sektor kiri.

Gol yang dicetak Benzema seolah-olah membuat pertandingan telah usai meski sebenarnya masih menyisakan satu babak lagi. Tapi secara agregat Madrid sudah unggul 5-1, Barcelona butuh lima gol untuk bisa membalikkan keadaan. Namun hal tersebut gagal terjadi karena pada babak kedua, kondisi tidak jauh berbeda tersaji pada babak kedua. Beberapa perubahan dilakukan seperti memasukkan Gerard Deulofeu dan Nelson Semedo untuk menambah daya dobrak, tapi tetap tidak ada gol yang bisa mereka cetak.

Perubahan skema yang dilakukan oleh Barcelona terbukti gagal untuk meredam keagresifitasan Madrid. Alih-alih membalikkan skor, skema alternatif yang diterapkan itu justru membuat mereka semakin terpuruk. Dua wing Barcelona, Jordy Alba dan Sergi Roberto yang diharapkan bisa menambah daya gedor pun lebih banyak dieksploitasi oleh Carvajal dan Marcelo, yang membuat kedua pemain tersebut mati kutu, selain tentunya kerap terlambat turun ke area pertahanan.

Selain itu, absennya Iniesta juga sangat berpengaruh bagi kreativitas penyerangan Barcelona. Terlihat, Messi kerap turun menjemput bola untuk memainkan peran sebagai pengatur serangan. Namun, hal tersebut justru mempermudah barisan pertahanan Madrid untuk mematahkan serangan Barcelona.

Komentar