Krisis di Lini Pertahan Jadi Penyebab Terpuruknya Sriwijaya FC | Pandit Football Indonesia

Krisis di Lini Pertahan Jadi Penyebab Terpuruknya Sriwijaya FC

Analisis

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Penulis merangkap Jurnalis @Panditfootball

Krisis di Lini Pertahan Jadi Penyebab Terpuruknya Sriwijaya FC

Berada di peringkat ke-15 klasemen sementara Liga 1 Indonesia 2017 jelas bukan kondisi yang menguntungkan bagi Sriwijaya FC yang tergolong sebagai salah satu kesebelasan papan atas di Indonesia. Posisi 15 artinya posisi mereka hanya satu strip di atas zona degradasi.

Dibandingkan dengan kontestan lainnya, jumlah pertandingan Sriwijaya memang kurang dua laga dari klub lainnya. Namun meski dua laga tersebut mereka lalui dengan kemenangan, poin maksimal mereka hanya bertambah menjadi 20 poin. Angka tersebut belum cukup untuk mengatrol posisi mereka ke papan atas.

Tentu harus ada evaluasi yang dilakukan pada paruh musim nanti. Penambahan pemain baru mungkin bisa menjadi solusi selain menggaet pelatih anyar untuk mengganti posisi Osvaldo Lessa yang lengser di tengah jalan. Melihat kebutuhan tim, sektor pertahanan tampaknya menjadi posisi krusial yang membutuhkan suntikan pemain baru.

Sriwijaya FC tercatat sebagai salah satu kesebelasan dengan tingkat kebobolan yang cukup tinggi. Ada 15 momen di mana gawang mereka di bobol lawan. Jumlah tersebut sebenarnya tidaklah membuat mereka menjadi kesebelasan dengan jumlah kebobolan terbanyak. Masih ada Persegres Gresik United yang harus kebobolan 27 gol dari 14 laga yang mereka jalani. Namun jumlah 15 gol bagi Sriwijaya yang merupakan kesebelasan raksasa di Indonesia jelas bukanlah kabar bagus. Apalagi, jumlah kebobolan mereka lebih banyak dari torehan gol yang mereka ciptakan, yakni 14 gol.

Selain jumlah kebobolan yang cukup banyak, permasalahan lain Sriwijaya FC di sektor belakang adalah kurangnya stok bek mereka. Ini yang menjadi faktor paling krusial kenapa Sriwijaya butuh suntikan pemain di lini belakang.

Pada awal kompetisi lalu, sebenarnya ada lima pemain belakang yang dimiliki Sriwijaya FC. Mereka adalah Firdaus Ramadhan, Bobby Satria, dan Yanto Basna, Bio Paulin, dan Ahmad Maulana. Namun belakangan jumlah tersebut berkurang hingga menjadi tiga pemain saja menyusul cedera yang dialami oleh Bio dan Ahmad Maulana. Akibatnya, beberapa kali Sriwijaya FC harus memainkan pemain yang bukan berposisi pemain belakang sebagai bek.

Bio mengalami cedera meniscus saat ia tampil membela Laskar Wong Kito di Piala Presiden lalu. Akibatnya, sejak pekan pertama ia tidak bisa ditampilkan. Sama halnya dengan Bio, Ahmad Maulana juga mengalami cedera meniscus yang mengharuskannya untuk menjalani operasi sebagai sarat penyembuhan.

Dibandingkan Ahmad Maulana, kondisi Bio Paulin saat ini sudah mulai membaik, bahkan dikabarkan mantan pemain Persipura Jayapura itu sudah bisa kembali ke lapangan. Namun belum bisa ditentukan kapan Bio bisa merumput bersama Sriwijaya di Liga 1 nanti.

Kalau pun pada putaran kedua nanti Bio bisa kembali merumput, namun itu bukan menjadi jaminan bagi Sriwijaya FC menyelesaikan masalah di lini belakang. Sebab stok empat pemain belakang terlalu riskan bagi Sriwijaya FC untuk mengarungi kompetisi Liga 1 yang super padat.

Apalagi pada putaran kedua, tantangan akan jauh lebih berat mengingat para kontestan lain yang juga akan semakin menggeliat untuk saling bersaing memperebutkan posisi papan atas di akhir kompetisi nanti. Selain itu, yang patut diperhatikan pula adalah posisi pemain belakang rentan sekali absen. Sebab, selain karena permasalahan cedera ada faktor lain yang membuat mereka jadi rentan absen.

Jawabannya tentu permasalahan kartu, posisi bek memang sangat krusial sebagai benteng terakhir sebuah kesebelasan. Dibandingkan pemain pada posisi lainnya, pemain belakang lebih sering melakukan pelanggaran yang tak jarang berbuah kartu dari wasit. Hal yang wajar mengingat tanggung jawab mereka yang cukup besar untuk menghindarkan gawang dari kebobolan.

Kalau melihat situasi-situasi tersebut, Sriwijaya FC memang membutuhkan pemain tambahan di posisi bek. Hal tersebut sangatlah memungkinkan, regulasi Liga 1 membolehkan setiap kesebelasan memiliki 30 pemain sebagai jumlah maksimal. Saat ini, Sriwijaya sendiri baru memiliki 29 pemain. Bila tidak ada penggawa yang dicoret pada paruh musim nanti, kemungkinannya Laskar Wong Kito bisa menambah lagi satu pemain tambahan untuk posisi pemain belakang.

Terkait penambahan pemain di jendela transfer paruh musim nanti, manajemen Sriwijaya FC mengakui bahwa hal tersebut juga menjadi prioritas mereka. Sekretaris tim Sriwijaya FC, Achmad Haris, mengungkapkan bahwa pihaknya akan terus melakukan kordinasi dengan tim pelatih mengenai kebutuhan pemain tambahan Laskar Wong Kito.

"Terkait bursa transfer, nanti akan dibicarakan dengan pelatih, tapi memang perbaikan pasti ada. Semua masukan dari teman media, suporter, dan pencinta Sriwijaya FC sangat kami perhatikan," ucapnya seperti dikutip dari Laskarwongkito.com.

Foto:

Komentar