Efek Negatif dan Positif dari Kehadiran Lima Pemain Senior di Timnas

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Efek Negatif dan Positif dari Kehadiran Lima Pemain Senior di Timnas

Indonesia meraih hasil imbang dalam laga uji tanding internasional menghadapi Puerto Riko di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Selasa (13/6/2017) malam. Kedua tim sama-sama tidak mampu mencetak gol sampai akhir laga, membuat laga berakhir dengan skor 0-0.

Dalam pertandingan ini, kedua tim menurunkan skuat terbaiknya. Indonesia memasukkan lima nama pemain senior, yaitu Kurnia Meiga, Irfan Bachdim, Fachruddin Aryanto, Bayu Pradana, serta Stefano Lilipaly untuk melengkapi para pemain U22 yang dominan menghiasi skuat. Sedangkan di sisi lain, Puerto Riko banyak menurunkan para pemain seniornya.

Secara permainan, kedua tim menampilkan permainan yang cukup atraktif. Saling menyerang terjadi antara kedua belah kesebelasan sepanjang pertandingan. Rataan penguasaan bola kedua tim pun tidak terlalu jauh. Dilansir dari Labbola, Indonesia mencatatkan 55% penguasaan bola, sedangkan Puerto Riko menorehkan penguasaan bola sebanyak 45%.

Tapi ada satu hal menarik yang bisa dibahas dari laga ini, yaitu kehadiran lima pemain senior di tubuh timnas Indonesia yang kebanyakan berisikan pemain U22.

*

Sejak laga melawan Kamboja di Phnom Penh pada Kamis (8/6/2017) lalu, lima pemain senior mulai menghiasi skuat timnas Indonesia yang mayoritas berkategori pemain U22. Hadirnya lima pemain senior ini terasa benar dampaknya dalam permainan timnas Indonesia.

Saat laga melawan Kamboja, permainan Indonesia mulai ada perubahan dengan hadirnya lima pemain senior ini. Perubahan tampak terjadi di lini tengah dan lini serang. Dengan kehadiran Bayu Pradana di lini tengah, baik itu Hanif Sjahbandi maupun Hargianto dapat memerankan peran box-to-box dengan lebih baik. Bayu yang punya kemampuan intersep dan tekel yang baik dapat menghalau serangan-serangan dari pemain lawan.

Sementara itu dengan kehadiran Bachdim di lini depan, tekanan dapat diberikan secara konstan kepada pemain lawan sejak dari area pertahanan lawan. Bachdim yang memang dapat berperan sebagai defensive forward ini, dengan staminanya yang kuat mampu meneror para pemain lawan sejak dari area pertahanan sendiri. Pada laga melawan Puerto Riko, kehadiran dari lima pemain senior kembali terasa.

Di lini serang, hadirnya Stefano Lilipaly sebagai gelandang serang memberikan dimensi penyerangan yang baru bagi timnas. Kemampuannya untuk membuka ruang, serta berkolaborasi dengan para penyerang lain semisal Irfan Bachdim, Saddil Ramdani, maupun Marinus Wanewar membuat penyerangan Indonesia begitu hidup. Kredit khusus juga patut diberikan kepada Marinus yang tidak hanya diam menunggu bola saja di kotak penalti.

Cairnya pergerakan para lini serang ini membuat Indonesia mampu beberapa kali mengancam gawang Puerto Riko. Saddil yang aslinya berposisi sebagai winger kanan, kerap bergerak ke tengah, pun dengan Bachdim dan Lilipaly yang kerap saling bertukar posisi, dan Marinus yang rajin bergerak meminta bola.

Luwesnya pergerakan lini serang Indonesia ini membuat bek-bek Puerto Riko kebingungan. Tercatat pada babak pertama, Indonesia total melesakkan tujuh kali tembakan ke arah gawang, dengan tiga di antaranya mengarah ke gawang.

Namun hadirnya lima pemain senior ini tak selalu memberikan efek positif, Seperti yang dialami di lini pertahanan. Koordinasi yang buruk dari Fachruddin Aryanto dan Bagas Adi Nugroho, tercermin dari jarak yang kerap terjadi antara keduanya, membuat para pemain Puerto Riko mampu menusuk beberapa kali dari sisi tengah.

Total 31% serangan Puerto Riko berasal dari area tengah. Buruknya lini pertahanan pun membuat Puerto Riko bahkan mampu mencatatkan 12 kali tembakan ke gawang Indonesia, dengan tujuh di antaranya merupakan tembakan yang mengarah ke gawang. Bayu Pradana, yang sebenarnya mampu memberikan efek yang cukup berarti di lini tengah, kerap beberapa kali ia harus kecolongan karena pemain Puerto Riko mampu beberapa kali menembus dari tengah.

*

Dalam dua pertandingan melawan Kamboja dan Puerto Riko, terasa bahwa hadirnya lima pemain senior mampu mengangkat penampilan timnas Indonesia, walau di sisi yang lain hadirnya beberapa pemain senior membuat ada hal yang tidak klik antara pemain muda dengan pemain senior yang menempati posisi tersebut.

Tentu akan menjadi hal yang menarik jika kelak lima pemain senior ini tidak kembali dipanggil dan Luis MIlla kembali mengandalkan para pemain U22 nya. Apakah akan ada sisi yang terguncang atau akan muncul bentuk permainan yang beda menjadi hal yang menarik ditunggu, jika kelak lima pemain senior itu tidak bermain, terutama para pemain senior di pos lini serang.

Milla punya waktu untuk mempersiapkan skuat U22 yang rencananya ditargetkan meraih emas di ajang SEA Games pada Agustus 2017 mendatang. Ia masih bisa meracik skuat dan menemukan formula yang tepat untuk permainan timnas U22 yang ia asuh.

Ajang babak kualifikasi Piala Asia U22 pada akhir Juli 2017 mendatang bisa menjadi ajang resmi sekaligus ajang pengukuran sejauh mana kekuatan timnas Indonesia U22 ini. Itu pun jika Milla memang tidak memandang serius babak kualifikasi ini, karena apa yang dipertaruhkan dalam babak kualifikasi Piala Asia U22 lebih besar.

Komentar