Manajer Terbaik 2016/2017: Leonardo Jardim

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Manajer Terbaik 2016/2017: Leonardo Jardim

Musim 2016/2017 sudah rampung, Banyak cerita yang terjadi, juga banyak peristiwa serta gelar yang ditorehkan oleh berbagai klub. Musim 2016/2017, selain menjadi milik para pemain yang mulai bermunculan, juga menjadi milik para manajer yang berhasil mengangkat performa tim lewat taktik atau pendekatan mereka yang brilian.

Seperti halnya memilih pemain terbaik, memilih manajer terbaik juga adalah perkara yang cukup sulit. Perdebatan pasti muncul, dan masing-masing orang akan memiliki pendapatnya sendiri soal manajer terbaik ini. Kami pun memiliki versi sendiri dari manajer terbaik ini, dipilih dari manajer yang dapat mengangkat performa tim, lewat variasi taktik yang kerap ia keluarkan sepanjang musim untuk timnya serta pendekatannya kepada para pemain.

Dari lima liga top Eropa, beberapa nama-nama manajer baru mulai bermunculan, bahkan ada manajer yang berusia masih cukup muda dan sebenarnya masih berada dalam usia yang pas untuk menjadi pemain sepakbola. Ada juga manajer yang berhasil mengangkat performa tim lewat perubahan radikal pada taktik yang ia terapkan untuk tim.

Untuk musim 2016/2017, ada empat kandidat manajer yang kami masukkan. Mereka adalah Antonio Conte, Julian Nagelsmann, Leonardo Jardim, serta Gian Piero Gasperini.

Antonio Conte

Didaulat untuk menangani Chelsea pada musim 2016/2017, awalnya ia tidak terlalu diperhitungkan. Meski ia punya pengalaman bagus kala menangani Juventus di Serie A serta menangani timnas Italia dalam ajang Piala Eropa 2016, hasil turun-naik ia perlihatkan bersama The Blues pada awal-awal musim. Bahkan, dua kekalahan beruntun dari Liverpool dan Arsenal pada awal musim mewarnai perjalanan Chelsea.

Akhirnya, dengan berani Conte melakukan perubahan radikal pada taktik yang ia terapkan. Skema empat bek yang ia pakai sampai The Blues dikalahkan Arsenal pada pekan ke-6, ia ubah menjadi skema tiga bek. Marcos Alonso dan Victor Moses ia maksimalkan menjadi wing back. Ia juga memaksimalkan peran Eden Hazard, Willian, serta Pedro menjadi inside forward yang menopang pergerakan Diego Costa di lini depan.

Perubahan radikal ini pun membuahkan hasil gemilang. Chelsea mencatatkan kemenangan 13 kali beruntun, yang menjadi kunci mereka meraih gelar Liga Primer musim 2016/2017. Chelsea pun masih berpeluang menambah gelar mereka dengan meraih gelar Piala FA. Meski kelak tidak mendapatkan gelar Piala FA, apa yang Conte torehkan pada musim 2016/2017 bersama Chelsea bisa dibilang mengesankan.

Julian Nagelsmann

Dari awalnya hanya menjadi manajer pengganti Huub Stevens, Julian Nagelsmann menjelma menjadi pelatih muda yang diperhitungkan di kancah Bundesliga. Menyelamatkan TSG 1899 Hoffenheim dari jerat degradasi pada musim 2015/2016, manajer yang juga mengidolai Ralf Rangnick ini berhasil membawa Hoffenheim melaju ke Liga Champions musim 2017/2018, walau harus melalui fase play off terlebih dahulu.

Memutuskan untuk menjadi manajer sejak masih berusia muda, Nagelsmann nyatanya memilih jalan yang tepat. Gaya-gaya manajerial manajer-manajer senior di Jerman, dipadukan dengan filosofi yang ia miliki, menjadikan Hoffenheim sebagai tim yang cukup fleksibel dalam gelaran Bundesliga 2016/2017. Main dengan skema tiga, empat, sampai lima bek sekalipun, para pemain Hoffenhemi begitu fasih memainkannya.

Hasilnya, selain memunculkan nama-nama macam Niklas Süle ataupun Sebastian Rudy, ia sempat membawa Hoffenheim tidak terkalahkan sampai 17 pertandingan. Catatan impresif pun ia torehkan, dengan mengantarkan Hoffenheim untuk pertama kalinya tampil di kompetisi Eropa musim depan, baik itu masuk Liga Champions (jika menang di fase play off) ataupun main di Liga Europa (jika kalah di fase play off).

Leonardo Jardim

Sejak kedatangannya pada 2014 silam, Jardim diberi tugas tersendiri dari pemilik Monaco, Dmitry Ryobolovlev. Setelah kegagalan strategi peningkatan performa dengan membeli pemain mahal, ia diserahi tugas untuk mengasuh para wonderkid di dalam tim menjadi pemain berprestasi. Proses yang mengasuh anak muda yang sudah dilalui Jardim sejak 2014 itu membuatnya sanggup mengantarkan Monaco menjuarai Ligue 1 2016/2017, menghentikan dominasi Paris-Saint Germain.

Mengasuh tim berisikan talenta-talenta macam Thomas Lemar, Bernardo Silva, Fabinho, Tiemoue Bakayoko, serta Kylian Mbappe, Jardim mampu membentuk sebuah tim yang offensive-minded, bahkan sampai tingkat yang paling banal. Raihan 107 gol yang Monaco cetak dalam ajang Ligue 1 2017 menggambarkan betapa banalnya serangan Monaco.

Hal ini juga berbanding lurus dengan penampilan Monaco di Eropa. Tim yang bermarkas di Stade Louis II ini berhasil mencetak 22 gol di Eropa, sampai mereka dihentikan Juventus di babak semifinal. Taktik unik nan ofensif yang diterapkan Jardim, menjadi sebuah alasan di balik meledaknya performa para pemain muda asuhannya di Monaco, ditopang dengan keberadaan Radamel Falcao sebagai pemain senior.

Gian Piero Gasperini

Di Italia, nama Massimiliano Allegri masih belum tergantikan sebagai manajer yang sukses mengantarkan Juventus juara Serie A. Namun ada nama manajer lain yang cukup menggebrak pada musim 2016/2017. Ia adalah Gian Piero Gasperini, manajer Atalanta.

Sempat diberitakan akan dipecat oleh Antonio Percassi, presiden klub Atlanta, Gasperini langsung menunjukkan perkembangan signifikan. Delapan kali tidak mencatatkan kekalahan setelah giornata 6 sampai 14, serta lanjut tidak mencatatkan kekalahan dari giornata 29 sampai 37 (Serie A masih menyisakan satu giornata lagi) setelah dibantai Inter pada giornata 28, adalah pencapaian luar biasa Gasperini bersama La Dea.

Hampir sama seperti Jardim, dengan bermaterikan pemain muda (beberapa berasal dari akademi Atalanta) dan menerapkan formasi dasar menyerang 3-4-1-2, ia menghadirkan tim Atalanta yang begitu agresif dalam menyerang. Gasperini berhasil mengasuh para pemain muda dalam timnya menjadi pemain berbahaya, dan sekarang Atalanta berpeluang tampil di Liga Europa musim depan.

Pencapaian yang baik dari manajer yang pada awal-awal musim diberitakan akan dipecat.

Manajer Terbaik: Leonardo Jardim

Cukup sulit memilih siapa yang terbaik di antara empat manajer tersebut. Kesemuanya memiliki catatan prestasinya masing-masing yang cukup gemilang bersama klub yang mereka asuh. Namun jika harus memilih, nama Leonardo Jardim kami pilih sebagai manajer terbaik musim 2016/2017.

Dibandingkan dengan manajer lain, Jardim termasuk manajer yang berani. Ia berani memainkan strategi ofensif yang banal, dengan pemain-pemain yang tidak seterkenal skuat Chelsea. Tapi dengan strategi ini, ia sukses membawa Monaco menjatuhkan rezim PSG di Ligue 1. Ia juga berhasil membawa Monaco ke babak final Coupe de la Ligue, semifinal Coupe de France, dan yang paling prestisius tentu saja semifinal Liga Champions, sebelum disingkirkan tim yang lebih berpengalaman di Eropa, yaitu Juventus.

Ia juga berhasil mengorbitkan beberapa pemain muda menjadi pemain yang cukup diperhitungkan di Eropa, macam Kylian Mbappe, Tiemoue Bakayoko, Thomas Lemar, ataupun Bernardo Silva. Sosok manajer asal Portugal sudah berproses sejak 2014 bersama Monaco, dan musim ini ia menuai apa yang sudah ia tanam sejak 2014.

Lalu, siapakah sosok manajer terbaik 2016/2017 menurut Anda?

Komentar