Kecerdasan Pochettino yang Berhasil Menghentikan Kemenangan Beruntun Chelsea

Analisis

by Gunanda Hasdiansyah

Gunanda Hasdiansyah

Pecandu game Football Manager yang mencintai sepak bola dengan segala keindahannya

Kecerdasan Pochettino yang Berhasil Menghentikan Kemenangan Beruntun Chelsea

Rentetan 13 kemenangan beruntun Chelsea akhirnya terhenti Kamis, (5/1/2017) dini hari tadi di tangan Tottenham Hotspur. Tottenham berhasil mengalahkan Chelsea dengan skor 2-0 di White Hart Line pada gameweek ke-20 Liga Primer Inggris.

Manajer Tottenham Hotspurs, Mauricio Pochettino tentu layak mendapatkan pujian karena mampu menemukan cara untuk menghentikan Chelsea yang sedang dalam performa puncaknya sejak menggunakan formasi 3-4-3.

Dua gol Tottenham pada laga ini diciptakan oleh Dele Alli, keduanya melalui sundulan. Kecerdasan seorang Pochettino cukup layak dipuji atas dua gol tersebut. Bagaimana tidak, Chelsea yang belum pernah kebobolan melalui sundulan musim ini berhasil dibobol dua kali oleh Tottenham pada pertandingan ini.

Kedua gol yang terjadi bukanlah kebetulan. Proses dari keduanya terlihat sangat mirip. Pochettino seperti sudah mengetahui titik lemah lini pertahanan Chelsea dalam hal mengantisipasi bola atas, yang belum pernah bisa dieksploitasi oleh kesebelasan lainnya.

Proses gol pertama Tottenham terjadi mulai dari Kyle Walker yang berlari menyisir sisi kanan pertahan Chelsea, lalu memberikan umpan kepada Christian Eriksen yang berada di depan kotak penalti. Ia lalu melepaskan umpan lambung kepada Dele Alli yang berada di kotak penalti untuk menyundul bola ke dalam gawang Chelsea.

Gambar 1

Seperti yang terlihat pada gambar di atas, pada proses ini, Eriksen sebelum melepaskan umpan, mampu menarik tiga pemain Chelsea untuk mengawalnya termasuk Gary Cahiil yang meninggalkan kotak penalti. Bahkan David Luiz pun seperti ikut terpengaruh untuk bergerak meninggalkan posnya ketika Eriksen menguasasi bola, ia melepaskan penjagaannya terhadap Harry Kane. Hal ini membuat Cesar Azpilicueta yang awalnya mengawal Dele Alli lebih terfokus untuk mengawal Kane. Dan dengan cerdik Eriksen memanfaatkan situasi ini dengan melepaskan umpan kepada Alli yang tidak dikawal dengan ketat berada di anatara Azpilicueta dan Victor Moses. Selain itu Alli yang mempunyai postur lebih tinggi dari Azpilicueta dan Moses lebih mudah dalam memanfaatkan umpan tersebut.

Hal yang sama juga terlihat pada proses gol yang kedua. Kembali berawal dari Walker, lalu melepaskan umpan kepada Eriksen yang berada di depan kotak penalti. Lalu ia melepaskan umpan lambung ke Alli yang berada di kotak penalti yang menceploskan bola ke dalam gawang Chelsea.

Gambar 2

Seperti yang terlihat pada gambar di atas, pada proses ini, Cahill kembali tertarik untuk menghentikan pergerakan Eriksen yang akan melepaskan umpan. Namun tidak seperti gol pertama, Luiz tidak ikut terpengaruh dengan pergerakan Eriksen. Ia tetap mengawal Kane di kotak penalti. Tetapi Azpilicueta kembali lengah dalam mengawal Alli, ia tidak melakukan ­man to man marking yang ketat kepada Alli, hal inilah yang kembali dimanfaatkan oleh Eriksen untuk melepaskan umpan kepada Alli. Lagi-lagi Alli berada di tengah-tengah Azpilicueta dan Moses namun tanpa ada tekanan kepadanya dari kedua pemain tersebut.

Pochettino berhasil memanfaatkan titik lemah pada lini pertahanan Chelsea. Pad dua proses gol tersebut, terlihat Azpilicueta yang hanya bertinggi badan 178 cm menjadi pemain paling mudah untuk dieksploitasi melalui bola atas. Pochettino cukup jeli dengan memerintahkan Alli yang bertinggi badan 188 cm untuk masuk ke dalam kotak penalti dan membuat Eriksen melepaskan umpan kepadanya. Keberadaan Kane di kotak penalti saat terjadi kedua gol tersebut digunakan sebagai pemecah konsentrasi para pemain belakang Chelsea.

Baca juga : Kepahlawanan Dele Alli Membuat Tottenham Hotspur Percaya Bisa Juarai EPL

foto : independent.co.uk

Komentar