Cara Fernando Santos Menjadikan Eder Sebagai Penentu Kemenangan Portugal

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi Pilihan

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Cara Fernando Santos Menjadikan Eder Sebagai Penentu Kemenangan Portugal

Cristiano Ronaldo terkapar. Meski ia berusaha melanjutkan pertandingan, mengingat laga tersebut merupakan laga final, Ronaldo tak kuasa untuk melanjutkan pertandingan. Pada menit ke-25, ia pun menyerahkan ban kapten pada Luis Nani karena ia harus ditandu keluar lapangan dan digantikan Ricardo Quaresma.

Cederanya Ronaldo membuat partai final Piala Eropa 2016 antara Portugal vs Prancis menjadi lebih tidak menarik. Hal ini dikarenakan kedua kesebelasan tampak tidak siap harus menjalani pertandingan tanpa Ronaldo.

Di kubu Portugal, cederanya Ronaldo membuat pelatih Portugal, Fernando Santos, seperti kebingungan. Ia memasukkan Quaresma tanpa mengubah skema. Namun Quaresma bukanlah Ronaldo. Portugal pun kesulitan menciptakan peluang.

Prancis terus menekan. Peluang demi peluang diciptakan di mana pada laga ini tuan rumah berhasil melepaskan 18 tembakan. Namun Antoine Griezmann yang diprediksikan akan menjadi pembeda di laga ini justru tak berdaya di tangan gelandang Portugal, William Carvalho.

Tapi lebih dari itu, sama seperti Portugal, Prancis pun seperti kebingungan ketika kubu lawan harus bermain tanpa pemain andalannya, Ronaldo. Prancis tak memanfaatkan keadaan tersebut untuk mengubah skema dan tetap pada skema awal yang dipersiapkan untuk menghadapi Portugal bersama Ronaldo.

Padahal Deschamps bisa saja membuat timnya lebih mengambil risiko, yaitu dengan bermain lebih menekan dan memanfaatkan Portugal yang sedang kebingungan. Menit ke-25 sampai 45 adalah waktu yang tepat bagi Prancis untuk menekan Portugal. Tapi itu tidak dilakukan oleh Deschamps. Ia malah mempersilakan portugal untuk masuk ruang ganti dengan perencanaan yang lebih matang di babak kedua. Di situ lah Deschamps kehilangan momentum bagi Prancis untuk memenangkan pertandingan dan menjuarai turnamen.

Hal itu semakin diindikasikan dengan pergantian yang dilakukan sang pelatih, Didier Deschamps. Formasi 4-2-3-1 tetap dipertahankan hingga akhir pertandingan. Pergantian pemain dilakukan per posisi, Andre-Pierre Gignac menggantikan Olivier Giroud, Kingsley Coman menggantikan Dimitri Payet, dan Anthony Martial menggantikan Moussa Sissoko.

Deschamps memang tetap mengandalkan skema utamanya. Ketika Ronaldo ditarik keluar, Prancis tetap bermain dengan pendekatan strategi yang sama. Peluang demi peluang memang diciptakan. Namun beberapa pemain kunci berhasil dimatikan.

Deschamps juga tetap menginstruksikan Paul Pogba dan Blaise Matuidi menjaga kedalaman di depan empat bek. Hal ini justru mencipatkan jarak antara double pivot dan empat bek dengan tiga gelandang serang dan satu penyerang. Maka yang sering terlihat, meski Prancis terus menekan, terdapat enam pemain yang melindungi area pertahanan.

Karena dimatikannya Griezmann dan Payet yang sedang di bawah performa inilah yang menyebabkan Sissoko begitu dominan pada laga ini. Terlebih lagi tidak ada gelandang lain yang membantu empat pemain terdepan dalam skema penyerangan, seperti yang terlihat pada gambar di atas.

Sementara itu, kebingungan Fernando Santos terselamatkan pada babak pertama. Seperti yang sudah kami sampaikan, ketika ia kebingungan merespon kehilangan Ronaldo di lapangan, Prancis tetap tak mengubah intensitas serangan. Ini artinya ia bisa ke ruang ganti dan mengubah lebih banyak skema bermain untuk babak kedua.

Respon Fernando Santos sendiri cukup positif. Ia tak hanya melakukan pergantian per posisi seperti yang dilakukan Prancis. Ia mengubah formasi dasar dari 4-1-3-2 menjadi 4-3-3 dengan memasukkan Joao Moutinho dan Ederzinho Macedo Lopes (Eder) menggantikan Adrien Silva dan Renato Sanches.

Meski Eder berpostur tinggi, 190cm, Fernando Santos tak memanfaatkan duel udara di kotak penalti ketika memasukkan Eder. Skema yang tak jauh berbeda tetap dimainkan, hanya saja untuk mendekati kotak penalti Prancis, Portugal menghindari bentrokan langsung dengan double pivot Prancis, Pogba-Matuidi.

Skema inilah yang kemudian melahirkan gol Eder. Bermula dari sisi kiri, operan-operan pendek dari kaki Raphael Guerreiro pada Quaresma yang diteruskan pada Moutinho berakhir di kaki Eder yang mendekati bola bergulir. Lantas dengan kemampuan individunya, Eder menggiring bola dan menaklukkan Laurent Koscielnya yang menjaganya. Tanpa harus bersinggungan dengan Pogba-Matuidi, penyerang Lille OSC ini pun melepaskan tembakan jarak jauh yang tak mampu dibendung kiper Prancis, Hugo Lloris.

Boleh jadi, kemenangan Portugal atas Prancis ditentukan oleh kesigapan Fernando Santos dalam menyikapi situasi tanpa adanya Ronaldo bagi timnya. Tak seperti Deschamps yang enggan mengambil risiko untuk lebih agresif dalam menyerang, Fernando Santos mengubah skema hingga akhirnya mencetak gol kemenangan.

Soal merespon situasi di lapangan, bukan kali ini saja Fernando Santos menunjukkan kualitasnya. Pada laga melawan Kroasia dan Wales pun ia melakukan perubahan yang akhirnya memenangkan Portugal. Pada laga melawan Kroasia, Quaresma yang jadi pemain pengganti menjadi pahlawan kemenangan. Sementara pada laga melawan Wales, perubahan serangan dilakukan hingga akhirnya Raphael Guerreiro mengirim dua umpan silang yang keduanya menjadi awal terjadinya gol Portugal ke gawang Wales.

Atas hal tersebut, menyebut Portugal juara karena dinaungi keberuntungan tidak lah tepat. Ronaldo cedera hanyalah salah satu kesialan Portugal dalam menjalani Piala Eropa 2016. Di balik itu semua, ada kejelian Fernando Santos dalam menentukan strategi, dimulai membentuk lini pertahanan yang kuat hingga menyikapi situasi di lapangan seperti yang terjadi pada situasi di atas.

Komentar