Melawan Keterbatasan Ala Jackson Follmann

Cerita

by Redaksi 24

Redaksi 24

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Melawan Keterbatasan Ala Jackson Follmann

Sebuah laga amal memperingati setahun tragedi kecelakaan pesawat yang menewaskan hampir seluruh pemain kesebelasan Chapecoense digelar di Brasil, Selasa (26/12) malam waktu setempat. Beberapa mantan penggawa Chapecoense yang selamat dari tragedi nahas itu ambil bagian, termasuk penjaga gawang Jackson Follmann yang kehilangan kaki kanannya akibat kecelakaan itu.

Dalam laga tersebut, Follmann masuk ke lapangan sebagai pemain pengganti, namun pria berusia 25 tahun itu tidak bermain sebagai penjaga gawang. Meski pergerakannya sedikit terbatas karena kaki kanannya harus ditopang kaki palsu, Follmann tetap antusias mengikuti pertandingan. Ia bahkan mencetak gol dengan kaki palsunya itu setelah menerima operan Alan Ruschel.

Setelah Follmaan mencetak gol, semua penonton bersorak gembira. Para pemain dari kedua kesebelasan pun ramai-ramai menghampiri dan memeluknya. Follmann begitu menikmati laga amal itu. Namun jelang pertandingan berakhir, Follmann tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya sambil memegangi kaki kanannya.

Para pemain dari kedua kesebelasan langsung menghampirinya dengan raut wajah khawatir. Namun sesaat kemudian, semua tersenyum setelah mengetahui bahwa Follmann hanya mengerjai mereka, dengan berpura-pura mengalami kram di bagian kaki palsunya.

Follmann merupakan satu dari tiga pemain Chapecoense yang selamat dalam tragedi kecelakaan pesawat La Mia Airlines yang melakukan penerbangan dari Bolivia ke Kolombia. Pesawat yang mengangkut 77 penumpang itu jatuh di Cerro Gordo, diduga karena kehabisan bahan bakar.

Akibat kejadian tersebut, 71 penumpang meninggal dunia, termasuk 22 orang yang terdiri dari pemain, pelatih, dan staf kesebelasan Chapecoense yang saat itu akan bertolak ke Kolombia untuk menghadapi Atletico Nacional di leg pertama final Copa Sudamericana 2016. Dari daftar pemain Chapecoense yang ikut dalam penerbangan tersebut, hanya tiga yang selamat.

Ketiga pemain Chapecoense yang selamat dalam tragedi kecelakaan tersebut adalah Follmann, Alan Ruschel, dan Helio Zampier Neto. Pascakejadian, Ruschel menjalani operasi pada tulang belakang, sedangkan Neto menjalani pengobatan untuk menyembuhkan cedera di tulang kepala, dada, dan paru-paru. Sementara Follmann, kaki kanannya harus diamputasi.

Setelah kejadian tersebut, Chapecoense didaulat sebagai juara Copa Sudamericana 2016. Keputusan tersebut diambil setelah Atletico Nacional, FIFA, dan CONMEBOL bersepakat memberikan gelar tersebut sebagai bentuk penghargaan. Selain itu, Chapecoense yang kehilangan banyak pemain pun tetap berkompetisi dengan sokongan pemain-pemain pinjaman.

Paralimpiade yang menjadi harapan Follmann

Seruan bangkit juga ditunjukkan para pemain Chapecoense yang selamat dari kejadian tersebut. Melalui proses yang panjang, lambat laun para pemain yang selamat dari peristiwa kecelakaan nahas tersebut berhasil mengikis trauma yang dialami, dan melanjutkan kembali kehidupan mereka.

Begitu pula dengan Follmann, meski harus kehilangan kaki kanannya ia tetap berjuang kembali pada kehidupannya yang lama. Dalam sebulan terakhir diketahui bahwa ia mulai kembali berlatih sepakbola. Salah satu alasan yang membuat Follmann giat berlatih sepakbola adalah keinginannya untuk kembali berkarier sebagai pesepakbola. Ia ingin menjadi bagian dari skuat Brasil pada ajang Paralimpiade (Paralympic) 2020 di Jepang.

Bukan perkara mudah bagi Follmann untuk bisa kembali menjadi pesepakbola, sekalipun di ajang paralimpiade. Sebab Follmann akan menghadapi beberapa hambatan dari aspek fisiologi dan psikologi untuk menjadi atlet disabilitas.

Dilansir dari 5 Hot News, salah satu atlet sepeda paralimpiade, Alexey Everyday memaparkan bahwa dalam olahraga paralimpiade memang ada kategori permainan sepakbola amputi (amputee football), yang dimainkan oleh orang-orang yang tidak memiliki kaki. Sebagian orang akan merasa terbiasa, namun bagi seseorang yang mengalami kecacatan fisik bukan dari lahir mereka akan menjalani proses adaptasi yang cukup lama.

Dalam proses latihan yang dijalani, mereka yang mengalami kecacatan fisik akibat kecelakaan akan menjalani proses latihan yang terkesan dipaksakan. Sehingga akan terasa sangat sakit bagi yang menjalaninya. Tapi jika Follmann bisa mengatasi kesulitan itu, kembalinya ia berkiprah dalam dunia olahraga akan menjadi salah satu tindakan terhebat yang dilakukan oleh manusia.

"Pada prinsipnya adaptasi itu nyata, bisa dilakukan di Paralimpiade 2020 di Tokyo. Semuanya tergantung atlet: kesehatan fisiologis dan keadaan sekitarnya bisa memengaruhi. Jika Follmann memiliki tekad kuat untuk kembali bermain sepakbola, kita bisa bersukacita dalam keputusan ini," terang Alexey.

"Ini menunjukkan kepada orang lain bahwa tidak peduli kemalangan dan tragedi yang telah menimpanya. Kita memang harus melangkah lebih jauh. Jika dia berhasil, itu bagus untuk semua orang, bukan hanya untuknya atau gerakan Paralimpiade. Merupakan contoh lain dari sebuah perjuangan dengan keadaan."

Alexey melanjutkan, memang tidak mudah bagi atlet yang mengalami kecacatan akibat kecelakaan dan beralih menggeluti olahraga paralimpik. Namun bukan berarti hal tersebut tidak bisa dilakukan, ada banyak contoh yang bisa dijadikan inspirasi oleh Follmann. Salah satunya, perenang paralimpik Rusia, Olesya Vladykina.

Enam bulan sebelum Olimpiade 2008 di Beijing, Olesya mengalami kecelakaan mobil. Akibat kecelakaan tersebut, dia harus kehilangan tangannya. Namun ia tidak menyerah, ia bergabung bersama tim paralimpik Rusia dan tampil di Paralimpiade 2008, Beijing. Hebatnya ia memenangkan medali emas di sana.

"Pebalap Atlet Alessandro Zanardi mengalami kecelakaan yang mengerikan di Amerika. Kedua kakinya diamputasi dan setelah beberapa tahun dia kembali dan melewati dua Paralimpiade. Ini lah contoh yang paling mencolok: mantan bintang Motorsport masih memimpin di tingkat dunia di Paralimpiade. Atlet profesional setelah cedera diberikan kehidupan baru di lingkungan Paralimpik. Begitu banyak dari kita. Terkadang trauma tersebut diterima oleh anggota tim olimpiade nasional, namun tidak menyerah dan terus melanjutkan karier di bidang olahraga," tandasnya.

Foto: The 18

Komentar