Terjalnya Langkah Bali United untuk Tampil di Fase Grup Liga Champions Asia

Analisis

by Redaksi 24

Redaksi 24

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Terjalnya Langkah Bali United untuk Tampil di Fase Grup Liga Champions Asia

Bali United dipastikan menjadi wakil Indonesia di ajang Liga Champions Asia (LCA). Federasi Sepakbola Asia (AFC) tidak memberikan rekomendasi kepada Bhayangkara FC sebagai jawara Liga 1 Indonesia 2017 untuk berlaga di kompetisi level Asia lantaran tidak memenuhi syarat lisensi klub AFC.

Bali United sebagai runner-up Liga 1 2017 berhak untuk mewakili Indonesia di LCA karena sudah memenuhi syarat lisensi klub AFC. Kendati demikian Bali United belum memastikan diri tampil di putaran final LCA musim depan. Klub berjulukan Serdadu Tridatu itu harus terlebih dahulu melakoni pertandingan eliminasi yang dilanjutkan dengan pertandingan play-off sebelum tampil di putaran final.

Ada dua pertandingan eliminasi yang harus dilakoni Bali United sebelum mencapai babak play-off LCA. Lawan-lawan yang akan Bali United dihadapi pun terhitung berat, apalagi sistem pertandingan babak eliminasi dan play-off LCA berbeda dengan Liga Champions Eropa, yang menerapkan sistem home & away dengan penghitung agregat sebagai hasil akhir pertandingan. Di LCA, laga eliminasi dan play-off hanya dimainkan sekali, sehingga jika Bali United kalah di pertandingan pertama mereka dipastikan gugur karena tidak ada laga leg dua yang dimainkan.

Di babak eliminasi ronde pertama Bali United sudah ditunggu Tampines Rovers. Laga tersebut akan dimainkan di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, 16 Januari mendatang. Melihat sistem pertandingan eliminasi dan play-off LCA yang hanya memainkan satu pertandingan saja, tentu ini menjadi keuntungan bagi Bali United yang akan bermain di hadapan pendukungnya sendiri.

Bali United memiliki performa impresif saat bermain di Stadion Kapten I Wayan Dipta. Di kompetisi domestik musim lalu, dari 17 penampilan kandang 15 laga dilalui dengan kemenangan, sementara dua pertandingan lainnya berakhir dengan kekalahan. Selain itu Stefano Lilipaly dan kolega juga terbilang produktif saat tampil di kandang sendiri, dengan catatan 52 gol yang dikemas selama melakoni pertandingan kandang musim lalu di Liga 1 2017.

Tampines Rovers sendiri bukan lawan sembarangan. Klub berjuluk The Tags itu memiliki komposisi pemain yang mumpuni, beberapa penggawa timnas Singapura seperti Mohammad Khairul Amri, Daniel Bennett, hingga Fachrudin Mustafic masuk dalam skuat tim asuhan Desmond Ong itu.

Tampines juga tercatat sebagai kesebelasan tertua dan salah satu yang tersukses di kancah sepakbola Singapura. Sejak terbentuk pada tahun 1945, Tampines telah memenangkan lima gelar Liga Singapura (1979, 1980, 1984, 2004, dan 2005) serta tiga trofi Piala Liga Singapura (2002, 2004, dan 2006). Selain itu, pada tahun 2005, Tampines pernah menjuarai turnamen antarklub se-Asia Tenggara.

Pada musim lalu, Tampines Rovers merupakan runner-up Liga Singapura. Dari 24 pertandingan yang dilakoni, 17 kemenangan berhasil diraih. Namun total 54 poin yang berhasil dikumpulkan Tampines gagal menggusur keperkasaan Albirex Niigata Singapore FC yang pada akhir musim keluar sebagai juara dengan total poin 62.

Keberhasilan Tampines tampil di babak eliminasi LCA bisa dibilang mirip dengan Bali United karena mereka pun berstatus kesebelasan pengganti. Juara Liga Singapura musim lalu, Albirex Niigata Singapore FC, tidak memenuhi sarat lisensi klub AFC karena mereka berstatus sebagai tim asing. Albirex merupakan tim satelit Albirex Niigata yang bermain di Liga Jepang, hal tersebut yang membuat mereka tidak boleh tampil di LCA. Selain Albirex Singapore, dua kesebelasan asal Liga Singapura lain yang tidak diperbolehkan tampil di kompetisi Asia adalah Brunei DPMM dan Young Lions yang merupakan tim U-21 timnas Singapura.

Chiangrai yang Bisa Menjadi Batu Sandungan Bali United Selanjutnya

Andai Bali United berhasil melewati hadangan Tampines Rovers, mereka dipastikan melaju ke babak eliminasi ronde dua. Dalam laga tersebut, Bali United dipastikan bentrok dengan klub asal Thailand, Chiangrai United.

Pamor Chiangrai memang tak semengerikan Muang Thong United, Buriram United, atau Chonbury FC yang bisa dibilang sebagai tiga kesebelasan besar di Negeri Gajah Putih itu. Tapi bukan berarti mereka tim yang bisa dipandang sebelah mata.

Di kompetisi Liga 1 Thailand 2017, Chiangrai mampu menembus posisi empat besar dengan total poin 60 hasil dari 34 laga yang dilakoni sepanjang musim lalu. Klub berjuluk The Beetles ini berstatus sebagai juara Piala FA Thailand musim 2017, dan runner-up Piala Liga Thailand di musim yang sama.

Selain prestasi, Chiangrai juga memiliki ke dalaman skuat yang mumpuni untuk menjadi batu sandungan Bali United lolos ke putaran final LCA musim depan. Tercatat beberapa penggawa timnas Thailand menjadi bagian The Beetles seperti Tanaboon Kesarat dan Pratum Chutong.

Melihat prestasi Chiangrai musim lalu dan komposisi pemain yang dimiliki, Bali United patut waspada bila memang mereka berhasil mencapai babak eliminasi ronde dua menghadapi Chiangrai. Apalagi pertandingan tersebut akan berlangsung di markas Chiangrai, Singha Stadium, 23 Januari mendatang.

Shanghai SIPG Menjadi Kompetitor Paling Berat

Seandainya Bali United berhasil melawati hadangan Chiangrai United, mereka dipastikan lolos ke babak play-off LCA. Pada babak penentuan untuk mencapai fase grup LCA musim depan itu, lawan yang jauh lebih tangguh sudah menanti Bali United. Klub asal Tiongkok, Shanghai SIPG, dipastikan menjadi lawan yang akan dihadapi tim asuhan Widodo Cahyono Putro itu dalam perjuangannya mencapai putaran final LCA musim depan.

SIPG merupakan salah satu kesebelasan raksasa di Liga Super Tiongkok. Tim yang musim lalu dilatih oleh Andre Villas Boas itu tercatat sebagai runner-up Liga Super Tiongkok. Dalam perburuan gelar di kompetisi musim 2017, Shanghai SIPG kalah saing dengan Guangzhou Evergrande yang keluar sebagai juara. Dari 30 pertandingan yang dilakoni, SIPG meraih total 58 poin, tertinggal enam angka dari Guangzhou di posisi teratas.

Pada musim depan, SIPG memang tidak akan lagi diasuh oleh Villas Boas yang memilih mundur dari jabatannya pada akhir musim lalu. Meski begitu, kekuatan SIPG tetap menakutkan, lantaran klub berjuluk Red Eagles itu tampaknya masih akan diperkuat, Oscar, Ricardo Carvalho, dan Hulk yang memiliki pengalaman bermain di kompetisi elite Eropa.

Bila melihat kualitas yang dimiliki SIPG, Bali United tampaknya akan mengalami kesulitan besar untuk bisa mengalahkan Red Eagles di babak play-off. Apalagi, pertandingan akan berlangsung di Shanghai Stadium pada 30 Januari mendatang.

***

Bila Bali United kalah pada satu dari tiga pertandingan tersebut maka dipastikan Indonesia tidak memiliki wakil di LCA musim depan. Kekalahan akan membuat mereka langsung terlempar ke Piala AFC, menemani Persija Jakarta, wakil Indonesia lain yang sudah memastikan tempat di Piala AFC.

Bila hal itu terjadi, maka peluang Madura United untuk mencicipi panasnya persaingan di kompetisi Asia otomatis tertutup. Sebab saat ini AFC hanya memberikan jatah dua kesebelasan saja untuk Indonesia tampil di Piala AFC. Madura United baru bisa tampil di Piala AFC jika Bali United berhasil mengalahkan Tampine Rovers, Chiangrai United dan Shanghai SIPG untuk mendapatkan satu tempat di babak grup Liga Champions Asia.

Foto: Panditfootball, Twitter

Komentar