Kompleksnya Permasalahan Everton

Analisis

by Redaksi 24

Redaksi 24

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kompleksnya Permasalahan Everton

Serentetan hasil minor terus membuntuti perjalanan Everton awal musim 2017/2018. Di ajang Liga Primer Inggris, baru dua kemenangan saja yang mereka raih. Sisanya, The Toffees menderita empat kekalahan dan satu hasil imbang dalam tujuh pertandingan. Tentu saja hasil tersebut membuat Everton hanya mampu mengumpulkan tujuh poin yang membuat mereka terpuruk di posisi 16, dua strip di atas zona degradasi.

Ada sebuah ironi tersendiri bila melihat pencapaian Everton pada awal musim ini. Sebelum musim 2017/2018 bergulir, The Toffees diprediksi bakal menjadi tim kejutan yang mampu merepotkan kesebelasan-kesebelasan papan atas Liga Primer Inggris. Prediksi tersebut mencuat karena Everton mau bersikap lebih boros di bursa transfer musim panas lalu.

Dilansir dari situs Transfermarkt.com, pengeluaran Everton untuk memboyong pemain baru musim ini mencapai 142,38 juta paun untuk mendatangkan sembilan pemain baru ke Goodison Park. Padahal sebelumnya Everton tidak pernah mengeluarkan biaya transfer hingga lebih dari 100 juta paun.

Kebanyakan mereka yang didatangkan pada awal musim ini punya potensi bisa mengangkat performa Everton musim ini seperti Wayne Rooney, Cuco Martina (free Transfer), Gylfi Sigurdsson (44,46 juta paun), Jordan Pickford (25,65 juta paun), Davy Klaassen (24,30 juta paun), hingga Sandro Ramirez (5,40 juta paun). Tapi para pemain tersebut nyatanya belum sedikit pun menggoyangkan persaingan papan atas Liga Primer.

Belum Bisa Melupakan Romelu Lukaku

Melihat permasalahan yang dialami Everton di awal musim ini, paling signifikan ada di sektor depan. Dari tujuh pertandingan yang dilakoni di Liga Primer Inggris, Everton masuk dalam jajaran tim dengan produktivitas terburuk sepanjang musim ini, karena mereka hanya mampu mencetak empat gol saja. Dibandingkan dengan musim lalu ada penurunan yang signifikan. Di musim 2016/2017, Everton mampu mencetak 11 gol dalam tujuh pertandingan.

Faktor paling signifikan yang membuat produktivitas mereka menurun saat ini adalah kepergian Romelu Lukaku, yang memutuskan hengkang ke Manchester United pada jendela transfer musim panas ini. Lukaku sebelumnya merupakan lumbung gol bagi Everton. Musim lalu saja ia mencatatkan 25 gol yang membuat penyerang asal Belgia itu menjadi pemain dengan jumlah gol terbanyak kedua di Liga Primer Inggris.

Sebenarnya, kepergian Lukaku memang membuat Everton mendapat keuntungan secara finansial, karena dari hasil penjualan tersebut mereka mendapat suntikan dana sekitar 76.23 juta paun. Namun apalah arti keuntungan finansial bila pada kenyataannya mereka harus menanggung kerugian secara performa, khususnya di lini depan.

Ada upaya sebenarnya yang dilakukan Koeman untuk menutup lubang yang ditinggalkan Lukaku dengan mendatangkan Ramirez dan Rooney. Keduanya kemudian membuat Everton memiliki total lima striker dengan tambahan Oumar Niasse, Dominic Calvert-Lewin, dan Shani Tarashaj (saat ini tengah mengalami cedera). Dari lima pemain tersebut, sejauh ini hanya Rooney dan Niasse yang terbilang produktif dengan masing-masing mencetak dua gol.

Total empat gol yang berhasil disarangkan Everton selama penampilannya di Liga Primer Inggris ini memang disumbangkan melalui sektor depan. Namun melihat jumlah tersebut agaknya terlalu miris bila dibandingkan dengan musim lalu, saat Lukaku masih berperan sebagai pemain nomor sembilan di Goodison Park.

Dari tujuh laga yang dilakoni musim lalu bersama Everton, Lukaku seorang saja bisa mencetak lima gol. Sementara musim ini, untuk mendapat empat gol saja Koeman harus mengandalkan dua pemain dengan masing-masing mencetak dua gol.

Selain Rooney dan Niasse, ada dua sosok lain yang sebenarnya potensial untuk diandalkan sebagai juru gedor pengganti Lukaku. Nama pertama adalah Calvert Lewin, penyerang muda penuh talenta. Namun mengingat usianya yang juga masih 20 tahun dan minim jam terbang, cukup wajar jika pada akhirnya ia belum bisa membuktikan ketajamannya.

Potensi gol justru seharusnya hadir dari Ramirez. Ia datang dengan modal 16 gol yang dicetaknya bersama Malaga pada musim lalu. Secara permainan, Ramirez memiliki kecepatan yang berpotensi untuk memporak-porandakan pertahanan lawan. Namun melihat kiprahnya sejauh ini yang belum menciptakan sebiji gol pun bagi Everton, bisa dibilang Ramirez belum memberikan dampak yang signifikan untuk dijadikan sebagai suksesor Lukaku di lini depan The Toffees.

Lini Tengah Mandek

Selain lini depan yang terkesan tumpul, faktor lain yang membuat Everton kesulitan dalam meningkatkan produktivitas mereka musim ini juga ada di mandeknya lini tengah dalam mengalirkan bola ke area depan. Adaptasi para pemain anyar masih terkendala sehingga penampilan mereka belum maksimal.

Hal tersebut memang membuat Koeman harus memutar otak agar lini tengah tetap bisa diandalkan dalam pola permainannya. Sejauh ini pelatih asal Belanda itu lebih sering mengandalkan Morgan Schneiderlin sebagai pengatur serangan di lini tengah. Penampilan pemain asal Perancis itu memang tidak buruk-buruk amat, apalagi bila mengacu pada penampilannya musim lalu.

Namun kekurangan kekurangan yang terlihat dari mantan pemain Manchester United itu saat ini adalah kreativitas dalam upaya mendistribusikan bola yang bisa dimanfaatkan penyerang Everton. Di laga melawan Burnley contohnya, penampilan Schneiderlin tidak terlalu menonjol, perannya di lini tengah sangat tidak terlihat.

Saat lini tengah mengalami kebuntuan dalam menciptakan kreativitas permainan, sebenarnya Koeman bisa memilih beberapa opsi, seperti lebih mengandalkan Davy Klassen atau menggeser Gylfi Sigurdsson untuk bermain lebih ke tengah. Selama ini, Koeman lebih sering mengandalkan Sigurdsson bermain sebagai winger. Tidak salah memang karena di Tottenham dan Swansea pun Sigurdsson banyak bermain di sektor sayap.

Satu hal yang membuat Sigurdsson spesial adalah kemampuannya yang bisa bermain di beberapa posisi berbeda. Selain winger ia juga bisa bermain sebagai seorang gelandang. Potensi bagi Sigurdsson untuk diandalkan sebagai playmaker sangat memungkinkan bagi Koeman.

Baca juga: Potensi Gylfi Sigurdsson yang Membuat Koeman Lebih Fleksibel dalam Menerapkan Skema

Musim ini rataan operan berhasli Sigurdsson mencapai 80 persen, kalah tipis dari Schneiderlin dengan 88 persen. Namun Sigurdsson punya kemampuan lain yang lebih dari Schneiderlin. Pemain berusia 28 tahun itu punya kemampuan mencetak peluang atau gol dari tendangan luar kotak penalti.

Hal yang wajar karena dia punya akurasi tendangan yang cukup bagus, musim ini total akurasi sepakannya mencapai 40 persen dan rataan percobaan tendangan dari luar kotak penalti per pertandingan sebanyak 0.80 tendangan.

Musim lalu, Sigurdsson menciptakan 27,8 persen peluangnya dari tengah dan 20,8 persen di antaranya berasal dari luar kotak penalti. Kemampuan seperti itu sangat potensial bagi seorang gelandang serang, karena saat lini depan buntu Sigurdsson bisa menciptakan peluang atau bahkan gol melalui lini kedua.

Sektor Sayap yang Juga Masih Belum Maksimal

Sebagai pengganti Sigurdsson, andai digeser ke tengah, Kevin Mirallas bisa kembali diandalkan di sektor sayap kiri. Biar bagaimanapun pada musim lalu Mirallas merupakan andalan Koeman di pos tersebut. Penampilannya juga cukup baik dengan mencatatkan empat gol dan enam asis dari 37 penampilannya di semua ajang.

Kehadiran Sigurdsson memang membuat pemain asal Belgia itu tersingkirkan dari tempat utama. Musim ini, Mirallas baru lima pertandingan dilakoni yang dominan dimulai dari bangku cadangan. Menggeser Sigurdsson ke tengah mungkin bisa menjadi alternatif bagi Koeman yang juga memberikan lebih banyak menit bermain bagi Mirallas.

Baca juga: Spurs Berhasil Memanfaatkan Kealfaan Sayap Everton

Lini sayap Everton masih belum terlalu maksimal, lihat saja saat mereka dihantam Tottenham, saat itu kurang agresifnya lini sayap mereka membuat Everton seperti tak beraya untuk melancarkan serangan ke jantung pertahanan Spurs melalui sisi luar lapangan.

Mengembalikan Mirallas ke sektor sayap kiri, mungkin bisa membuat daya gedor Everton lebih meningkat. Musim lalu catatan statistik Mirallas mencatatkan rataan 1.43 dribel sukses. Dalam urusan menciptakan peluang pun Mirallas cukup baik dengan rataan 1.26 chance created per laga.

Selain Mirallas, Koeman juga bisa kembali mengandalkan Aaron Lennon, Ademola Lookman, atau Nikola Vlasic yang merupakan pemain dengan natural posisi sebagai pemain sayap. Empat nama tersebut bisa diandalkan Koeman sambil menunggu Ross Barkley yang kerap diandalkan di sektor sayap kanan Everton pulih dari cedera hamstring pada musim lalu.

***

Koeman sendiri menyadari bahwa dengan belum maksimal permainan anak asuhnya ia harus mengotak-atik strategi khususnya di susunan pemain. Karenanya tak heran berbagai macam formasi telah ia coba, dimulai dari 4-2-3-1, 4-3-3, 3-4-3, 3-5-2, hingga 4-2-2-2. Namun dari perubahan formasi-formasi tersebut, pemain-pemain yang diturunkan tidak banyak berubah. Delapan pemain yang sama selalu menghuni susunan pemain Everton. Mungkin dengan situasi seperti ini, Koeman harus kembali mengandalkan pemain-pemain andalannya musim lalu, sambil menunggu para pemain baru beradaptasi dengan permainan Everton.

Foto: The Sun,

Komentar