Paolo di Canio: Antara yang Brutal dan yang Spiritual

Cerita

by Redaksi 46

Redaksi 46

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Paolo di Canio: Antara yang Brutal dan yang Spiritual

“Satu momen bisa menghapus semua yang telah Anda capai dalam karir,” ucap Paolo Di Canio. “Saya tidak membunuh siapapun. Saya mendorong wasit. Kamu tahu itu salah, tapi hal semacam itu bisa saja terjadi. Jika itu terjadi, jalani hukumanmu. Saya dilarang bertanding hingga 11 pertandingan. Tapi, Anda ingat? Media dan orang-orang menyebut saya barbar.”

Di Canio menerawang tentang satu momen yang membuatnya selalu dicap buruk. Kala itu, 26 September 1998, Sheffield Wednesdey bertanding menghadapi Arsenal. Jelang akhir babak pertama, terjadi perebutan bola begitu sengit di lini tengah. Pemain Sheffield, Petter Rudi, terlibat dalam pergumulan bola di lini tengah dengan gelandang Arsenal, Patrick Vieira.

Di Canio lalu mendekati Vieira dan menegurnya, “Patrick, ayolah. Itu tidak perlu,” tulis Di Canio dalam otobiografi yang terbit pada 2000. Beberapa saat kemudian, Martin Keown, pemain Arsenal, terlihat menyikut wajahnya. Di Canio pun terlibat perselisihan dengan Keown. Tak berselang lama, wasit yang memimpin pertandingan, Paul Alcock, mengusirnya.

Tak terima, Di Canio melontarkan protes. Namun, emosi sudah terlanjur menguasai dirinya. Di Canio pun mendorong Alcock yang kemudian tersungkur di atas tanah.

Kartu merah tersebut membuat tim disiplin FA memanggilnya. Di Canio pun hadir di Bramall Lane, kandang Sheffield United, untuk memberikan jawaban. FA memutuskan untuk menghukum Di Canio sebanyak 11 laga dengan denda 10 ribu pounds.


Jatuh dengan menggelikan (Sumber gambar: footballnova.com)

Usai pertemuan tersebut Di Canio mengungkapkan penyesalannya. “Aku ingin menyampaikan permohonan maaf atas apa yang telah terjadi,” tutur Di Canio seperti dikutip BBC.

Nyatanya, persoalan tidak berhenti sampai di situ. Sejumlah wasit menyatakan ketidaksenangannya. Mereka menganggap hukuman untuk Di Canio terlampau ringan.

Wasit yang pernah memimpin Piala Dunia, Philip Don, menuduh bahwa FA gagal mengirimkan pesan yang tepat untuk wasit di seluruh negeri. “Paolo Di Canio terbukti bersalah atas permasalahan disiplin yang begitu besar dan saya tidak merasa bahwa itu hukuman yang pantas,” tutur Don seperti dikutip BBC.

Meskipun demikian, sepanjang 1996 hingga 1998, hukuman untuk Di Canio merupakan yang paling berat. Sebelumnya, pada 1996, bek Birmingham dihukum empat pertandingan karena terlibat adu fisik dengan wasit, lalu pada 1997 Emmanuel Petit dihukum tiga pertandingan karena mendorong wasit.

Karena Banyak Orang Bodoh di Luar Sana

Cobaan untuk Di Canio tidak berhenti sampai di situ. Media-media Inggris pun mendorongnya begitu keras. Bahkan, Menteri Olahraga Inggris kala itu, Tony Banks, meminta FA untuk memberikan hukuman berat. Banks di media bahkan sempat menyindir, “Barbarian pulanglah ke rumah kalian!”. Sindiran tersebut tak lain ditujukan kepada Di Canio.

Pemain yang mengawali karirnya di Lazio itu pun memberikan pembelaan. “Seseorang menulis itu dan apakah yang aku lakukan jauh lebih buruk ketimbang tragedi Hillsborough di mana 96 orang wafat?” tanya Di Canio.

Dalam wawancara eksklusif dengan jurnalis Independent, Robert Chalmers, Di Canio memaparkan semuanya. Bahkan saat ia hendak keluar lapangan, pemain Arsenal, Nigel Winterburn, sempat memanas-manasinya dengan kata-kata kasar. “Ia berteriak, kau bajingan! Kau sudah habis! Kau sudah selesai!” tutur Di Canio menirukan ucapan Winterburn.

Terpojoknya Di Canio nyatanya tidak membuatnya membenci Inggris. “Inggris adalah tempat sempurna untuk bermain sepakbola,” cetus Di Canio, “Di Italia, Anda mencetak gol lalu pertandingan berakhir; ini tentang mentalitas.”

Ia pun menyanjung Inggris sebagai tempat di mana kultur sepakbola masih murni. “Itu yang membuat saya selalu memilih Inggris ketimbang Italia,” kata Di Canio.

Chalmers lalu bertanya apa yang membuatnya tetap kuat dan tetap mau bermain serta berkarir di Inggris. Tak diduga, alih-alih menjawab dengan sinis Di Canio melontarkan pernyataan ikonik, “Tidak (meninggalkan Inggris) karena banyak orang dengan kecerdasan rendah di dunia ini.”

Baca juga: Kumpulan Gestur Pembawa Hukuman

Orang-orang Kiri di Persimpangan Lapangan Bola


Menahan Emosi

Satu-satunya kelemahan Di Canio adalah sulit bagi dirinya untuk menutup mulutnya saat marah. Suatu ketika saat masih membela Lazio, Di Canio dibuat kesal oleh Chairman Lazio, Claudio Lotito. Saat makan malam ia mulai berteriak seperti orang gila.

“Saya membalikan meja prasmanan dan melemparkan benda-benda. Ruangan penuh dengan benda berterbangan: piring, botol, dan garpu. Saya naik ke meja pelatih dan mulai menendanginya. Mereka melihat solah-olah saya gila,” ujar Di Canio.

Lambat laun, Di Canio mulai belajar. Saat ditunjuk sebagai pelatih Swindon Town pada 2011, kedewasaan Di Canio diuji. Ia harus menghadapi anak asuh yang mirip dengannya sewaktu muda: tempramental.

Pada September 2011, pelatih fisik Swindon, Claudio Donatelli, menganggap bahwa Leon Clarke tidak fit sepenuhnya. Di Canio pun memanggil Clarke ke ruang ganti. Dalam perjalanannya ke ruang ganti, Clarke beradu mulut dengan Donatelli. Tak lama kemudian, Di Canio berusaha melerai dengan merangkul Clarke. Namun, Clarke malah terus berkonfrontasi.

Kepada Chalmers, Di Canio menyatakan bahwa Clarke terus menghina Donatelli. Sebagai manajer, ia berusaha untuk memisahkannya. Kejadian pun berlanjut di dalam terowongan menuju ruang ganti.

“Aku menarik bajunya dan melemparkannya ke dinding tapi dia terus menyumpah. Dia terus-terusan berkata kasar pada orang yang lebih tua darinya,” ucap Di Canio.

Lalu, Di Canio pun mengancam pada pemilik Swindon, “Dia yang pergi, atau saya?” Di Canio memberi pertanyaan. Pemilik klub pun hanya berkata, “Klub ini bersama Anda”.

Saat itu, Di Canio merasa dirinya mulai menunjukkan ketenangan. Ia mulai bisa meredam emosinya. Clarke pun dipinjamkan ke Chesterfield. Namun, karena masih ada berita-berita buruk tentangnya, mulai saat itu Di Canio tidak lagi mau bicara banyak kepada media.

Kejadian yang menimpa Clarke sempat dialami pula oleh Di Canio. Saat itu, ia pernah mendorong pelatihnya, Fabio Capello. Namun, Di Canio punya pembelaan.

“Itu bukan di lapangan. Aku mendorongnya dan dia hilang keseimbangan. Dia terjatuh ke tas. Itu terjadi karena aku menentang keputusannya. Capello mengucapkan kata-kata kasar kepadaku kala itu,” tutur Di Canio.



Menuju Hidup yang Tenang


Ilustrasi Stonehenge (sumber gambar: oxfordscientificfilms.tv)

Di Canio mengaku dirinya tengah mempelajarai budaya Samurai. Dalam beberapa tahun ke belakang, Di Canio kian dekat dengan mentalitas spiritual Jepang.

“Aku menyukai aturan hidup mereka. Loyalitasnya, kehormatannya. Kualitas dari loyalitas dan kehormatan adalah hal yang amat penting. Ketika aku melihat anak muda menunjukkan ketidakhormatannya pada orang yang lebih tua, aku marah. Anda harus menghormati orang yang lebih tua, karena mereka mengajari Anda arti yang sebenarnya dalam kehidupan, tentang penderitaan, tentang rasa sukacita,” ucap Di Canio.

Di Canio pun bercerita tentang kesenangannya mendatangi Stonehenge, situs purbakala di Inggris. “Sekitar 3500 tahun lalu ada manusia yang terkoneksi antara bumi dan surga. Dan ada komunitas yang merayakan titik balik matahari pada 21 Desember,” kata Di Canio.

Apa yang diucapkan Di Canio ini terbilang tidak lazim. Dalam istilah filsafat, apa yang dipercayai Di Canio merupakan panteisme, di mana ia mempercayai bahwa alam adalah pusat energi dan pusat kehidupan semesta. Panteisme merupakan kepercayaan kepada tuhan yang non-personal di mana tuhan bukanlah suatu sosok tertentu yang di-manusia-kan.

“Aku menghormati siapapun yang percaya pada Kristus, Buddha, Allah, atau Khrisna,” tutur Di Canio, “Namun, aku merasa energi di sekitar Anda adalah sesuatu yang bisa memberdayakanmu.

“Orang-orang yang mengatakan aku (hal-hal buruk) seperti itu, tidak tahu aku yang sebenarnya. Aku adalah orang yang tenang, seperti yang aku katakan, dan lebih dewasa dan aku amat senang. Ambisi kami mungkin baru bisa dicapai bertahun-tahun lamanya, tapi sejujurnya aku ingin kesebelasan ini (Swindon Town) lolos ke Premier League,” harap Di Canio.

Percakapan Di Canio dengan Chalmers berlangsung pada September 2011. Kurang dari satu tahun kemudian, Di Canio membawa Swindon Town menjadi juara League Two dan lolos ke League One.

Pada Maret 2013, Di Canio resmi diikat Sunderland karena Swindon mengalami masalah finansial. Namun, para pemain tak senang dengan kehadirannya. Di Canio menerapkan standar yang sama seperti yang ia lakukan di Swindon: latihan dua kali sehari dan sekali libur dalam seminggu.

Para pemain protes minta Di Canio diganti. Manajemen Sunderland menyanggupinya. Pada 22 September 2013 Di Canio resmi dilepas.

Seperti yang ditulis Chalmers dalam pembukaan wawancaranya dengan Di Canio, pesepakbola pada masa “overpriced” seperti sekarang ini terlalu mudah untuk mencium badge klub semudah mereka berpura-pura cedera. Pesepakbola masa kini pun terlalu mudah untuk mengeluh semudah wasit Paul Alcock tersungkur saat didorong Di Canio.

Padahal, sistem dengan latihan berat tersebut terbukti sukses di Swindon di mana Di Canio berhasil menjadikan mereka juara. Dalam akhir wawancara, Di Canio amat senang bisa bergabung dengan Swindon. Menurutnya, para pemain sudah amat mengerti dengan dirinya dan para suporter tidak pernah henti mendukungnya.

Kriteria yang sulit inilah yang barangkali membuat Di Canio menganggur hingga saat ini. Ia membutuhkan kesebelasan yang bukan cuma berisi pemain bintang, tapi juga profesional dan memahami caranya memandang kehidupan.

 Sebagian besar materi merupakan saduran dari wawancara Di Canio dengan Robert Chalmers di Independent

Sumber gambar: vogliadistringersiunpo.com

Komentar